Farrel Arlian’s Weblog

Agustus 21, 2008

Brokoli

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — arlian @ 6:57 am

Pada tahu kan yang namanya brokoli? Itu tuh sayuran yang kayak kembang kol tapi warnanya hijau tua. Kenapa eh kenapa kok membahas brokoli yach…? karena eh karena farrel tuh suka banget ama yang namanya brokoli. Mau dibikin sup kek or ditumis kek anakku tetep tergila-gila ama yang namanya brokoli. Tapi jangan tanyakan emaknya ini apakah doyan brokoli atau gak ? Huaha…….daku gak doyan sama sekali. Boro2 ditumis disop aja aku gak doyan. Menurutku brokoli itu rasanya kayak langu2 gitu, apaan ya bahasa indonesianya langu tuh….? maksudnya rasanya kayak gimana gitu..pokok e aku gak doyan samsek deh , mending aku disuruh makan kembang kol aja daripada disuruh makan brokoli. Tapi kok orang bule doyan banget brokoli ya , banyak masakan eropa yang pake brokoli lho apalagi ntuh yang namanya sup cream brokoli, hueks deh…masak brokoli diblender begitu trus disup ditambahin cream and susu , apa rasanya tuh. Membayangkan aja aku dah mual.

Nah beda lagi ama farrel, karena aku menyadari  brokoli itu banyak vitamin or gizinya maka mau gak mau dari bayi farrel dah takcekokin ntuh yang namanya brokoli. Waktu pengenalan makan saat farrel umur enam bulan kubikinlah bubur brokoli+kentang. Jadi kira2 begini resep bubur andalan waktu jaman farrel masih bayi dulu :

Bubur brokoli + kentang

Bahan-bahan :  – setengah kuntum brokoli

                        – kentang 1 biji

                        – susu bubuk (  bisa  pakai sufor anak )

                        – keju cheddar

Cara membuat :

Potong2 brokoli jadi kuntum2 kecil, cuci pakai air garam ( untuk menghilangkan ulat2 kecil yang kadang ngumpet di batang kecil brokoli ), kemudian bilas pakai air biasa. Kentang dikupas lalu potong2 juga  dan dicuci , terserah gimana potongnya yang penting gampang tuk dibleder. Lalu kukus potongan brokoli dan kentang di dandang kecil ( pada tahu kan dandang , kalo gak tau tanya emak masing2). Setelah empuk keluarkan brokoli dan kentang lalu masukin ke blender dan tambahkan susu bubuk yang sudah dicairkan dengan sedikit air . Blender sampai halus , setelah halus keluarkan dari blender dan sajikan di mangkok anak . Sajikan hangat2 dan taburi parutan keju diatasnya biar lebih gurih dan keju juga sebagai pengganti garam. Nah dijamin deh anakku pasti lahap makannya.

Waktu farrel 6-10 bulan aku lebih suka bikin bubur kentang dan dikombinasikan dengan apa aja , misal dengan wortel, labu, buncis, kacang merah dan lain2. Karena bubur kentang ini lebih praktis bikinnya daripada bubur nasi yang lebih lama prosesnya sehingga sebelum berangkat kerja aku sempetin tuk bikin bubur untuk farrel.

Aku gak tau farrel dulu eneg gak ya tak cekokin sayuran and kentang mulu, apalagi yang namanya brokoli paling gak seminggu 4 kali kubikin bubur brokoli ini. Eneg…eneg dah. Tapi farrel doyan2 aja tuh bahkan lahap. Dan kebiasaan makan sayur ini kebawa sampai dia udah dua tahun ini. Makan sayur apa aja doyan dia yang penting gak pedes. Mau sayur lodeh kek, sop, sayur bening, tumis or apa aja gak nolak dia dengan catatan gak pake cabe ya…bisa-bisa nangis kepedesan nanti dia.

Nah sampai dia gedhe ini dia tetep menjagokan brokoli lho sebagai sayur favoritnya. Udah deh kalo takbikinin sop brokoli pasti dia gadoin tuh brokoli sampai abis dulu , ya ampun beda banget ya ama emaknya ini yang gak doyan brokoli. Maaf ya nak kalo emakmu ini suka mencekokimu dengan brokoli waktu bayi dulu.., tapi kan demi gizi untuk pertumbuhanmu nanti. Aku sendiri sudah mencoba untuk senang sama brokoli tapi gak berhasil lho, sampai saat ini aku masih emoh makan brokoli , gak tau rasanya eneg aja.

Sekarang cerita tentang tetangga sebelah rumah, dia punya anak umurnya 3 tahun , cewek, and sering main sama farrel. Tau gak anak itu gak doyan sayur sama sekali lho. Masak aku pernah lihat dia disuapin nasi doang ama pembantunya, kadang nasi thok ama kecap, kadang juga cuma  indomie goreng. Pernah kutanya ke mbaknya yang nyuapin ” kok gak pake sayur tho ? “, eh mbaknya jawab ” gak doyan sayur dia ,bu ” . Mbaknya itu sampai heran lihat farrel lahap sekali makan pake sayur apa aja, entah sayur terong, bayam atau sop. Dia bilang ” pinter ya farrel, makannya pake sayur “, kuterangin aja ” lha dari kecil makanannya sayur kok “. Ternyata setelah kutanya ke mbaknya ternyata anak tetangga itu gak doyan sayur karena turunan ibunya yang gak doyan sayur samsek, lha yang jelek aja kok diturunin tho. Jadi tetanggaku itu jarang masak sayur karna gak doyan dan otomatis anaknya gak biasa dikasih sayur jadi ampe sekarang juga gak doyan sayur. Pantes aja emak sama anak kok badannya kering begitu rupanya gak pernah makan sayur sama sekali. Mbok ya kalo dia gak doyan sayur ya yang penting anaknya dibiasain makan sayur kan kasihan juga untuk perkembangan dia nanti apalagi masih tiga tahun masih banyak membutuhkan gizi untuk perkembangan otaknya. Masak anak jadi korban pola asuh yang keliru dari emaknya. kan kebiasaan makan sayur harus kita timbulkan dari masih bayi.

Dari sini aku mulai berpikir sebenarnya pola makan, tingkah laku, dan pola berpikir anak kita itu bisa kita bentuk dari dia masih bayi. Seperti farrel misalnya karena dari bayi takbiasain makan sayur dan buah maka sampai sekarang dia gak bermasalah sama sekali makannya, aku mau masak sayur apa aja dia doyan asalkan gak pedas. Untuk buah begitu juga mau kukasih buah apa aja dia doyan asal gak asem, terutama yang dia suka buah yang banyak airnya. Seperti halnya kebiasaan baca buku ternyata bisa juga dibentuk dari dia masih kecil, walaupun dia dulu belum mengerti apa yang kita bacakan tetapi hal ini menjadi suatu kebiasaan yang bagus untuk perkembangan kecerdasannya nanti. ya semuanya bisa kita mulai dari kebiasaan – kebiasaan kecil yang kita lakukan tetapi kita juga harus intens dan konsisten dalam melakukannya.

Wah postingan yang aneh nih dari ngomongin brokoli nyasar ke pola perkembangan dan asuh anak. tapi gak apa2 ya semoga ada pelajaran yang kita petik dari hal2 kecil di sekitar kita.

Kontraktor

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — arlian @ 12:39 am

Aku beralih profesi jadi kontraktor?

Nggak lah yau…yang aku maksud itu hidup sebagai kontraktor alias berpindah-pindah rumah kontrakan karena emang belum punya rumah sendiri.

Ya banyak sekali lho suka duka menjadi kontraktor itu alias rumahnya ngontrak..he..he. Petualanganku sebagai kontraktor dimulai ketika aku menjadi pengantin baru , ya aku harus ikut suami ke jakarta untuk memulai rumah tangga kami. Alhamdulillah walaupun cuma suami yang kerja waktu itu tapi kami bisa mengontrak rumah yang menurut aku sangat layak untuk kami. Perabotan rumah tangga pun juga sudah ada waktu itu karena suami tipe orang yang suka menabung jadi dia sudah mencicil untuk membeli perabotan sebelum istri diboyong  ke rumah kontrakannya. Aku sangat senang  karena tak harus pontang panting kalau membutuhkan peralatan masak. Waktu diboyong ke rumah kontrakan suami waktu itu rasanya bahagia  , maklumlah kami kan  pengantin baru dan bisa tinggal dirumah sendiri walaupun masih ngontrak, jadi bebas untuk mengatur rumah tangga kami sendiri. Dan walaupun ketika itu kami memulai kehidupan baru kami dengan hanya uang lima puluh ribu ditangan , karena duit habis buat kawinan,  tapi semua kami lalui dengan senang hati.

Nah ketika aku mulai bekerja , waktu itu mulai ada ketidakcocokan antara aku dan kakak ipar yang juga ngontrak di dekat rumah kontrakan kami. Mulai deh ada api2 peperangan..he..he. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah kontrakan dan kebetulan juga rumah kontrakan kami itu mau ditempatin anaknya owner kontrakan kami. Jadi mau gak mau kami memutuskan pindah kontrakan. Aku inget sekali waktu pindahan itu aku lagi hamil dua bulan dan lagi mabok-maboknya alias mun-mun terus karena hamil muda. Aku sama sekali gak bantuin beres2 perabotan karena untuk bangun aja gak bisa, pusing dan lemas ditambah lagi mun-mun waktu itu karna hamil muda. Jadi aku cuma ngelihatin aja waktu itu dan untungmya banyak sekali saudara2 dan teman2 yang bantuin proses pindahan itu sehingga dalam satu hari sudah rapi kontrakan kami yang baru ini.

Kontrakan kami yang baru punya teras yang lebih besar dan jalanan di depan rumah juga lebih besar sehingga mobil bisa masuk sampai depan rumah. Selain itu dapur dan kamar mandi juga lebih lega sehingga aku bisa masak dengan leluasa. Tapi sayangnya gak ada pintu belakangnya sehingga agak pengap udaranya. Di rumah ini kami bertahan sampai 3 tahun kurang lebih, dari aku hamil muda dua bulan sampai farrel berumur 2 tahun. Kami sudah familiar di lingkungan sekitar dan juga sudah menjadi penduduk tetap warga situ karena KTP dan KK kami telah ikut warga daerah situ. Yang paling terkenal  tentu saja farrel, satu RW kenal semua yang namanya farrel . Coba saja cari alamat rumah kami dengan menanyakan namaku pasti gak ada yang tahu tapi kalo kalian tanya “ dimana rumah mamanya farrel” pasti satu Rw tahu semua. Maklumlah kami berdua sama-sama kerja jadi jarang dirumah, nah yang sering dirumah kan farrel dan dia kan sering main ke tetangga tentu saja anakku itu lebih terkenal di lingkungan kami.

Setelah kurang lebih tinggal di rumah kontrakan selama dua tahun kami mulai berpikir untuk mencari rumah untuk kami beli sendiri. Apalagi mengingat rumah kontrakan kami mulai banyak dinding yang retak2 dan kalau hujan dindingnya ada rembesan air sehingga menyebabkan rumah jadi lembab. Tentu saja hal ini tidak bagus untuk kesehatan anak kami apalagi farrel itu sangat rentan alergi karena turunan dari emaknya. Dan lagi dinding yang retak2 itu sudah cukup mengkhawatirkan jika nanti diguncang gempa 4 SR aja atau jika ada angin gedhe aku takut kontrakan kami akan roboh. Akhirnya kami mulai mengumpulkan uang untuk membeli rumah karena untuk pindah kontrakan lagi kami merasa malas mengingat dan menimbang perabotan kami sungguh2 banyak jadi males aja kalo pindah kontrakan lagi. Males beres-beres lagi.

Kami mulai cari2 rumah kontrakan yang dijual tapi belum menemukan yang cocok di hati soalnya kebanyakan kontrakannya pasti berderet-deret sehingga suasana cukup ramai dan itu membuat aku tidak terlalu nyaman. Kami juga mulai melirik perumahan2 dengan sistem KPR tapi kok ya kami pikir bunga banknya besar sekali dan jangka waktu 10 tahun..kok ya rasanya gak kuat harus punya hutang selama 10 tahun. Akhirnya kami mulai mencari tanah kosong yang nantinya bisa kami bangun rumah diatasnya walaupun belum tahu kapan bisa membangunnya. Ya itung2 buat investasi aja dulu untuk masa depan farrel nanti. Kira2 akhir desember tahun lalu kami berhasil membeli tanah seluas 61 meter persegi , kecil memang tapi cukuplah untuk membangun satu rumah mungil kami. Dan akhirnya enam bulan kemudian , bulan juni tepatnya kami memulai pembangunan rumah kami. Ya walaupun dengan berhutang sana-sini tapi yang penting hutang kami tak berbunga karena kami utang ke saudara. Memang modal nekat aku ini, tapi alhamdulillah semua berjalan lancar dan ada aja jalan yang dikasih ke kami sehingga pembangunan rumah kami berjalan lancar. Dan akhirnya agustus ini kami sudah bisa menempati rumah baru kami walaupun masih ada hutang yang harus kami cicil kemudian hari. Yang penting kami tak harus menjadi kontraktor lagi atau pindah2 rumah kontrakan dan kami bisa memberikan tempat tinggal yang layak bagi farrel.

Semua berkah ini sungguh kami syukuri karena tak mungkin kami bisa tinggal dirumah kami sendiri tanpa berkah yang diberikan Allah kepada keluarga kami. Dan semoga kami tetap dilancarkan rejekinya agar kami bisa cepat melunasi hutang2 kami.

Blog pada WordPress.com.