Farrel Arlian’s Weblog

Agustus 21, 2008

Kontraktor

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — arlian @ 12:39 am

Aku beralih profesi jadi kontraktor?

Nggak lah yau…yang aku maksud itu hidup sebagai kontraktor alias berpindah-pindah rumah kontrakan karena emang belum punya rumah sendiri.

Ya banyak sekali lho suka duka menjadi kontraktor itu alias rumahnya ngontrak..he..he. Petualanganku sebagai kontraktor dimulai ketika aku menjadi pengantin baru , ya aku harus ikut suami ke jakarta untuk memulai rumah tangga kami. Alhamdulillah walaupun cuma suami yang kerja waktu itu tapi kami bisa mengontrak rumah yang menurut aku sangat layak untuk kami. Perabotan rumah tangga pun juga sudah ada waktu itu karena suami tipe orang yang suka menabung jadi dia sudah mencicil untuk membeli perabotan sebelum istri diboyong  ke rumah kontrakannya. Aku sangat senang  karena tak harus pontang panting kalau membutuhkan peralatan masak. Waktu diboyong ke rumah kontrakan suami waktu itu rasanya bahagia  , maklumlah kami kan  pengantin baru dan bisa tinggal dirumah sendiri walaupun masih ngontrak, jadi bebas untuk mengatur rumah tangga kami sendiri. Dan walaupun ketika itu kami memulai kehidupan baru kami dengan hanya uang lima puluh ribu ditangan , karena duit habis buat kawinan,  tapi semua kami lalui dengan senang hati.

Nah ketika aku mulai bekerja , waktu itu mulai ada ketidakcocokan antara aku dan kakak ipar yang juga ngontrak di dekat rumah kontrakan kami. Mulai deh ada api2 peperangan..he..he. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah kontrakan dan kebetulan juga rumah kontrakan kami itu mau ditempatin anaknya owner kontrakan kami. Jadi mau gak mau kami memutuskan pindah kontrakan. Aku inget sekali waktu pindahan itu aku lagi hamil dua bulan dan lagi mabok-maboknya alias mun-mun terus karena hamil muda. Aku sama sekali gak bantuin beres2 perabotan karena untuk bangun aja gak bisa, pusing dan lemas ditambah lagi mun-mun waktu itu karna hamil muda. Jadi aku cuma ngelihatin aja waktu itu dan untungmya banyak sekali saudara2 dan teman2 yang bantuin proses pindahan itu sehingga dalam satu hari sudah rapi kontrakan kami yang baru ini.

Kontrakan kami yang baru punya teras yang lebih besar dan jalanan di depan rumah juga lebih besar sehingga mobil bisa masuk sampai depan rumah. Selain itu dapur dan kamar mandi juga lebih lega sehingga aku bisa masak dengan leluasa. Tapi sayangnya gak ada pintu belakangnya sehingga agak pengap udaranya. Di rumah ini kami bertahan sampai 3 tahun kurang lebih, dari aku hamil muda dua bulan sampai farrel berumur 2 tahun. Kami sudah familiar di lingkungan sekitar dan juga sudah menjadi penduduk tetap warga situ karena KTP dan KK kami telah ikut warga daerah situ. Yang paling terkenal  tentu saja farrel, satu RW kenal semua yang namanya farrel . Coba saja cari alamat rumah kami dengan menanyakan namaku pasti gak ada yang tahu tapi kalo kalian tanya “ dimana rumah mamanya farrel” pasti satu Rw tahu semua. Maklumlah kami berdua sama-sama kerja jadi jarang dirumah, nah yang sering dirumah kan farrel dan dia kan sering main ke tetangga tentu saja anakku itu lebih terkenal di lingkungan kami.

Setelah kurang lebih tinggal di rumah kontrakan selama dua tahun kami mulai berpikir untuk mencari rumah untuk kami beli sendiri. Apalagi mengingat rumah kontrakan kami mulai banyak dinding yang retak2 dan kalau hujan dindingnya ada rembesan air sehingga menyebabkan rumah jadi lembab. Tentu saja hal ini tidak bagus untuk kesehatan anak kami apalagi farrel itu sangat rentan alergi karena turunan dari emaknya. Dan lagi dinding yang retak2 itu sudah cukup mengkhawatirkan jika nanti diguncang gempa 4 SR aja atau jika ada angin gedhe aku takut kontrakan kami akan roboh. Akhirnya kami mulai mengumpulkan uang untuk membeli rumah karena untuk pindah kontrakan lagi kami merasa malas mengingat dan menimbang perabotan kami sungguh2 banyak jadi males aja kalo pindah kontrakan lagi. Males beres-beres lagi.

Kami mulai cari2 rumah kontrakan yang dijual tapi belum menemukan yang cocok di hati soalnya kebanyakan kontrakannya pasti berderet-deret sehingga suasana cukup ramai dan itu membuat aku tidak terlalu nyaman. Kami juga mulai melirik perumahan2 dengan sistem KPR tapi kok ya kami pikir bunga banknya besar sekali dan jangka waktu 10 tahun..kok ya rasanya gak kuat harus punya hutang selama 10 tahun. Akhirnya kami mulai mencari tanah kosong yang nantinya bisa kami bangun rumah diatasnya walaupun belum tahu kapan bisa membangunnya. Ya itung2 buat investasi aja dulu untuk masa depan farrel nanti. Kira2 akhir desember tahun lalu kami berhasil membeli tanah seluas 61 meter persegi , kecil memang tapi cukuplah untuk membangun satu rumah mungil kami. Dan akhirnya enam bulan kemudian , bulan juni tepatnya kami memulai pembangunan rumah kami. Ya walaupun dengan berhutang sana-sini tapi yang penting hutang kami tak berbunga karena kami utang ke saudara. Memang modal nekat aku ini, tapi alhamdulillah semua berjalan lancar dan ada aja jalan yang dikasih ke kami sehingga pembangunan rumah kami berjalan lancar. Dan akhirnya agustus ini kami sudah bisa menempati rumah baru kami walaupun masih ada hutang yang harus kami cicil kemudian hari. Yang penting kami tak harus menjadi kontraktor lagi atau pindah2 rumah kontrakan dan kami bisa memberikan tempat tinggal yang layak bagi farrel.

Semua berkah ini sungguh kami syukuri karena tak mungkin kami bisa tinggal dirumah kami sendiri tanpa berkah yang diberikan Allah kepada keluarga kami. Dan semoga kami tetap dilancarkan rejekinya agar kami bisa cepat melunasi hutang2 kami.

Belum Ada Tanggapan »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah tanggapan

Blog pada WordPress.com.