Hari ini dua tahun yang lalu aku melahirkan anak lelaki pertamaku. Masih kuingat rasa sakit itu, masih kuingat bahagia itu. Ketika sembilan bulan waktu mengandung telah berakhir dan diganti tangisan bayi mungil yang sudah kami nantikan sekian lama. Aku masih ingat hari itu ..hari dimana aku tergolek di ruang operasi, tak berdaya menghadapi pisau bedah yang menyayat perutku. Hari itu hari dimana aku merasakan kontraksi di perutku yang besar karena masih mengandung anakku .
Hari itu sabtu pagi yang cerah..seperti biasa setiap habis subuh suamiku rajin membangunkan aku untuk diajak jalan-jalan pagi keliling sekitar rumah agar melancarkan proses kelahiran anakku nanti. Habis jalan-jalan aku belanja ke tukang sayur untuk menu masakan hari ini.Aku mau masak ayam kecap dan tumis taoge tahu untuk hari ini . Aku segera berkutat di dapur menyiapkan masakan hari ini dibantu ibuku. Sedangkan suamiku hari itu minta libur kerja ke bos jadi dia stand bay dirumah karena hari itu jadwal aku ke dokter kandungan dan dokter sudah menjadwalkan untuk induksi karena due date melahirkan sudah lewat seminggu. Sedari pagi suamiku sudah ribut saja menanyakan apakah aku sudah mules atau belum karena memang due date melahirkan sudah lewat seminggu..aku jawab aja belum..lha memang belum kok orang aku aja masih bisa sibuk masak. Sekitar jam 9 pagi semua masakan sudah matang tapi aku masih malas makan karena tadi abis jalan2 pagi ibuku sudah menghidangkan lumpia bikinan ibuku sendiri yang aduhai sedapnya sehingga aku masih kekenyangan makan lumpia itu.
Aku duduk santai di teras dengan ibuku setelah selesai masak dan melihat kirab pengantin betawi karena ada tetangga yang kawinan secara adat betawi. Tentu saja prosesi kawinan itu menjadi tontonan menarik bagi tetangga sekitar rumah kami. Suamiku pamit mau kerumah kakaknya sebentar entah mau pinjam sesuatu aku gak begitu jelas. Setelah melihat iringan pengantin sambil menggendong anak tetangga sebelah yang berumur setahun..he..he padahal perutku buncit banget masih bisa gendong2 anak orang tiba2 saja perutku terasa mulas. Cepat2 aku kamar mandi karena kupikir mau pup., tapi sudah lama di kamr mandi gak keluar2 juga tuh sampai kram kakiku mana perut buncit susah untuk jongkok..he..he. Aku keluar lagi dari kamar mandi. Tapi lima belas kemudian kok mules lagi ya…kenapa ini? aku sampai 3 kali bolak balik ke kamr mandi , ibuku sampai bingung.
” kamu ini kenapa tho? ” tanya ibuku
” Gak tau ini bu, mules perutku tapi gak keluar2 ” (pup maksutnya)
” jangan2 sudah waktunya nih ?”
” waktunya opo tho bu ?”
” yo waktunya brojol to, piye kowe ki “
“yo ndak tahu bu, wong aku belum pernah ngerasain kok”
” emang gimana rasane ?”
” yo mules kayak mau pup, tapi kok gak keluar2 yo ?”
” wis kamu maem dhisik aja , siapa tau memang waktunya. kan kamu belum makan nanti kalau ngeden butuh tenaga. nanti kalau gak maem bisa lemes lho.”
” iya bu..”
Aku segera mengambil piring dan nasi, cepat2 kumakan denagn lahap. Enak juga masakanku ini..walah malah narsis tho. Di tengah2 aku makan tiba2 mulesnya dateng lagi, aku segera berlari ke kamr mandi. Kucopot cd ku ..eh maaf jadi horor nih.., kulihat ada flek coklat di cd ku. Ya ampun apakah ini? apakah memang aku mau melahirkan? Aku jalan ke depan dan bertanya ke ibuku..ada apa dengan cinta..eh ada apa dengan diriku. Ibuku menjawab ” yo ini waktunya ndhuk”
Dueng…ya Allah benarkah sudah tiba saatnya bertemu dengan anakku ? Yang selama sembilan bulan kukandung yang selama sembilan bulan menyatu dengan diriku. Aku langsung menelpon suamiku yang tadi pamit kerumah kakaknya sebentar..tapi ternyata hpnya ditinggal dirumah. Ya sudah kunikmati rasa sakit ini..sambil nonton tivi pelan2 kuhitung intervalnya, baru 10 menit sekali. Oh begini ya rasa sakit kontraksi itu aduhai nikmatnya. Jam 11 suamiku datang, aku omelin saja kok lama amat yak..perutku sakit nih..
” sudah waktunya ya dik ”
” ya ndak tahu yah, lha kan belum pernah “
” ke dokter sekarang, yah?” tanyaku
” ntar aja dik, ntar kamu jenuh disana , kemarin tetangga sebelah ke rumah sakit pagi eh besok paginya baru ngelahirin “
wah sok tahu banget nih suamiku, kayak dia udah pernah melahirkan aja..wakakakks
Setengah jam kemudian interval makin bertambah jadi 5 menit sekali, jangan tanya deh rasanya…aduhai bener. Aku sampai meneteskan air mata karena sakitnya. Sampai sampai suami kena cakaran mautku he..he. Ibuku menyuruh suamiku untuk memanggil taxi untuk membawaku kerumah sakit. Tapi suamiku malah bilang ntar aku jenuh kalo kelamaan di RS..wah masih ngeyel dia kayak udah pengalaman aja. Akhirnya karena udah gak kuat aku teriak :
” aku udah gak kuat yah, sakit banget. cepat panggilken taksi daripada brojol disini !”
hue..he..abisnya ngeyel bener tuh suamiku..padahal kontraksi udah dua menit sekali ampe aku gak bisa berdiri. Eh malah dia balik lagi ke dalam rumah nanya ibuku ” taksinya sekarang ya?”. waduh gimana sih aku aja dah nangis2 mau pingsan dia masih gak ngeh juga. Ya maklum belum pengalaman dia tapi sok taunya itu lho…ya ampun.
Akhirnya dengan taksi kami menuju rumah sakit. Aku masih inget tiba di klinik bersalin dekat rumah sekitar jam 12 , dua orang bidan menyambut kedatanganku. Mereka segera memapahku ke ruang bersalin lalu bidan segera memeriksa dalam dengan jarinya.
” Udah bukaan tujuh bu “
Masya Allah cepat sekali prosesnya, soalnya dari sharing selama ini biasanya mereka bisa sehari semalam kontraksi baru melahirkan. Aku yang baru kontraksi 2 jam aja udah bukaan tujuh, Masyaaallah terimakasih atas kebesaran-Mu. Kurasakan kontraksi semakin hebat sampai2 aku memukul suamiku..maaf ya yah jadi pelampiasan rasa sakitku.Ya itung2 turut merasakan sakit kontraksi ini..kan berbuatnya berdua jadi harus ditanggung berdua kan…he..he.
Tiba2 ditengah rasa kontraksi itu aku merasakan air mengalir di bawah sana..seperti orang pipis tapi banyak sekali. Aku bilang sama ibuku
” basah nih, buk. ganti kainnya ” .
Lalu bidan memeriksa ” oh itu ketubannya udah pecah coba saya perikasa dalam lagi “. Waduh sakitnya, lalu bidan bilang
” wah, sudah bukaan sepuluh , cepat sekali tapi kok kepala bayi belum terlihat..jangan2 terlilit tali pusar nih ?”
Waduh apalagi nih ? Lalu bidan berlari ke dalam untuk telp ke dokterku dan dia bilang dokter menyarankan untuk operasi caesar karena takut bayi terlilit dan tensiku pun masih tinggi.
Aku pun mengiyakan saja karena memang sudah tak kuat menahan kontraksi yang semakin hebat ini . Ibuku langsung gemetaran mendengar kata operasi karena takut kenapa2 dengan aku. Aku bilang gak apa2 bu..daripada sakit begini gak keluar2..he..he aku memang gak tahan sakit. Akhirnya suamiku menandatangani surat ijin tindakan ceasar dan aku pun dibawa ke RS yang lebih besar karena disitu memang tidak ada peralatan untuk operasi. Sampai di RS dokter tidak segera membiusku karena mereka menunggu dokter kandunganku datang .Waduh..rasanya minta ampun kontraksi ini. Aku sampai teriak2 ke dokter untuk segera membiusku..aku gak tahan. Dasar emang aku ini gak tahan sakit. Dokter jaga sampai ketawa2 karena melihatku..dasar dia sih gak ngerasain.
Akhirnya jam setengah 3 dokter kandunganku datang dan dokter anestasi segera membiusku.Dia menekuk tubuhku untuk menyuntikkan bius di tulang belakangku.Setelah itu rasa kesemutan menjalari tubuh bagian bawah tubuhku dan perlahan rasa sakit kontraksi itu hilang. Tapi aku masih sadar ketika semua proses operasi berlangsung..aku juga mendengar jelas apa yang diperbincangkan oleh dokter2 itu. Perutku terasa ditekan2 tapi sama sekali tidak sakit padahal sih itu lagi dibelah perutku..he..he. Lima menit kemudian terdengar tangis itu..ya Allah anakku kah itu..Tapi aku merasa setengah sadar setengah tidak jadi gak tau perasaaan waktu itu campur aduk.
Ya saat itu Jam 3 sore tgl 5 Agustus 2006 lahirlah anak kami ” Farrel Arlian Nugraha ” tempat segala kasih kami tercurah.
Tiba2 dingin kurasakan menjalar tubuhku hingga menggigil seluruh tubuhku. Perasaanku dan tubuhku sedikit melayang. Campur aduk perasaanku saat itu saat suamiku membisikkan kata kata ini:
” Terimakasih sayang , kau berikan anak lelaki yang sempurna dan sehat . I love you sayang “